Sidang Jum’ah rahimakumullah
Dari mimbar yang kita muliakan ini, ijinkanlah khatib mengajak kepada diri khotib sendiri, dan juga kepada hadirin sekalian, untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Bertaqwa dalam arti yang sebenarnya dan selurus-lurusnya. Menjalankan secara ikhlas seluruh perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala, dan menjauhi segenap larangan-larangan Nya. Marilah kita isi setiap desah nafas kita dengan sentuhan-sentuhan Taqwa. Sebab, hanya dengan Taqwa kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki di akherat yang abadi dan kebahagiaan hidup di dunia fana ini.
Sidang jamaah Jum’ah rahimakumullah
Rakyat Indonesia sebentar lagi akan dipantakan haknya untuk memilih pemimpinnya. Pemilihan umum merupakan wahana untuk menentukan pemimpin yang ideal bagi masyarakat, agama bangsa dan negara kita ini. Dari pemilihan umum ini pula kita akan memilih figur yang tepat untuk kita jadikan panutan bagi kita. Peranan seorang pemimpin sangatlah tidak kita ragukan lagi pentingnya keberadaanya. Karena dengan adanya seorang pemimpin kita memiliki harapan ada yagn membawa dan mengajak kita kearah yang lebih baik, baik dalam beragama berbangsa dan bernegara.
Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia
kedudukan seorang pemimpin dalam Islam haruslah kita ta’ati seperti kita menta’ati Allah dan RasulNYA. Allah swt berfirman dalam Al-Quran :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Q. S An-Nisa : 59
Ayat di atas merupakan sebuah mantuk (pernyataan) yang memberikan gambaran kepada kita agar dapat ta’at kepada Allah Rasul dan Ulil Amri, dari pernyataan tersebut mengandung mafhum (pertanyaan) yang harus ada klarifikasi untuk menjawabnya. Mafhum yang pertama adalah Pemimpin yang manakah yang harus kita ikuti dan kita ta’ati? Dan mafhum yang kedua, Pemimpin manakah yang seharusnya kita angkat dan kita pilih itu.
Kata pemimpin dalam islam kadangkala disebut imam tapi sering juga di sebut khalifah. Dalam shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. Secara harfiyah, imam berasal dari kata amma ya'ummu yang artinya menuju, menumpu dan meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu didepan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. Disamping itu, pemimpin disebut juga dengan khalifah yang berasal dari kata khalafa yang berarti di belakang. Kalau pemimpin itu disebut khalifah, itu artinya ia harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong diri dan orang yang dipimpinnya untuk maju dalam menjalani kehidupan yang baik dan benar sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju kearah kebenaran.
Hadirin sidang Jum’at Rahimakumullah
Pemimpin yang harus kita patuhi dan kita ta’ati adalah pemimpin yang sesuai dengan tuntutan dan tuntunan agama Maka daripada itu kita jangan mengikuti bahkan menta’ati pemimpin yang tidak sejalan dengan tuntunan agama, yang tidak menjadikan agama sebagai cerminan jiwa dan hatinya, yang tidak menjadikan takwa sebagai pakaiannya, dan pemimpin yang tidak menjadikan iman sebagai kendaraan dalam memimpinnya. Maka pemimpin yang demikian Allah swt menegaskan dalam firmannya :
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. Q. S At-Taubah : 23
Hadirin sidang Jum’at Rahimakumullah
Mafhum yang kedua dari ta’at kepada ulil amri adalah, pemimpin yang manakah yang harus kita angkat dan kita pilih? Islam memberikan tuntunan bagi umatnya untuk memilih dan menentukan pemimpinnya.
Yang pertama calon pemimpin haruslah orang yang memiliki tanggung jawab atau amanah terhadap tugas kepemimpinannya karena dari sifat ini seorang pemimpin akan mampu melaksanakan tugas-tugasnya. Tugas seorang pemimpin sangatlah amat berat, sehingga Allah swt menggambarkan dalam Al-Quran :
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. QS. Al-Ahzab : 72
Adanya pertanggungjawaban bagi seorang pemimpin, baik itu pertanggung jawaban pada manusia maupun kepada Allah swt kelak merupakan hal yang mutlak bagi seorang pemimpin.
Hadirin sidang Jum’at Rahimakumullah
Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah beliau datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar itu, maka ia datang dengan penampilan sangatlah sederhana sehingga ada yang menduga kalau ia seorang kuli. Kemudian dari pada itu datanglah seseorang yang menyuruhnya untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya. Umar membawakan barang itu dengan maksud menolongnya. Namun ditengah jalan, ada seseorang yang memanggil umar dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang pun tahu siapa yang telah disuruh oleh dia. Umar sang khalifah tersenyum dan tak marah atas semua itu bahkan umar sang khalifah berkata janganlah engaku enggan untuk menyuruhku dan janganlah engkau merasa hal itu suatu kesalahan karena ini adalah tanggung jawab ku sebagai seorang pemimpin. Beliau sadar kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah dan memikul tanggung jawab dan amanah itu teramat sangat berat sekali.
Allah swt Berfirman :
''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui. QS Al-Anfal : 27
Hadirin sidang Jum’at Rahimakumullah
Yang kedua, calon pemimpin menurut islam adalah seseorang yang tidak memiliki niat menjadikan kedudukan pimpinan itu sebagai fasilitas untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, fasilitas untuk mendapatkan kemegahan dan mendapatkan segala apa yang diinginkannya. Calon pemimpin haruslah orang yang mau memberikan yang terbaik kepada kepentingan umum sebagai fasilitasnya, dan menjadikan dirinya sebagai orang yang pertama berkorban sebagai jembatan kemajuan, baik berkorban dalam bidang pemikiran, moril bahkan materil untuk kemajuan atas orang-orang yang dipimpinnya.
Rasulullah Saw bersabda:
Menjadi seorang pemimpin maka dia harus siap melayani orang yang dipimpinnya karena hakikat seorang pemimpin bukan raja melainkan pembantu dari keluh kesah kaumnya (HR. Abu Na'im)
Hadirin sidang Jum’at Rohimakumlllah
Yang ketiga, calon pemimpin adalah orang gemar melaksanakan amal ma’ruf dan menjauhi kemungkaran. Seorang pemimpin haruslah orang yang mau mengajak kejalan kebenaran dan berani menentang kemungkaran, bukan membiarkannya dan mengikutinya. Ingatlah, apabila kemungkaran itu dibiarkan maka orang yang melaksanakan kemungkaran itu akan merasa terbiasa atas kemungkaran itu, tidak merasa telah melakukan penyimpangan, dan kalau ini sudah terjadi maka kemungkaran itu akan menjadi kebudayaan. Yang sulit dihapus apalagi dihilangkan. Budaya yang akan terus dan terus melahirkan penerusnya dalam kemaksiatan.
Yang keempat, calon pemimpin adalah orang yang memegang dan menjaga janjinya, seperti menjaga nyawa yang ada dalam jasadnya.
• •
Sebenarnya siapa yang menepati janji yang dibuatnya, dan bertakwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. Q. S Ali-Imran : 76
Dan yang kelima, calon pemimpin haruslah orang yang memiliki akhlaqul karimah, baik akhlak terhadap Allah swt maupun akhlak terhadap dirinya maupun kepada manusia dan apa yang ada disekelilingnya. Pemimpin bisa mulia karena akhlaqnya dan bisa binasa karena nafsunya. Pemimpin adalah contoh dan contoh haruslah ihsan atau kebaikan bukan keburukan dan kejelekan.
Mudah-mudahan kita diberikan oleh Allah swt kekuatan untuk memilih dan menentukan pemimpin yang terbaik untuk agama bangsa dan Negara. dan siapapun yang terpilih kelak, mudah-mudahan Allah jadikan mereka menjadi pemimpin yang beriman dan bertakwa kepadaNYA.
This entry was posted on and is filed under Article Agama. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

